Wednesday, 14 March 2012

Makalah Hama Dan Penyakit Tanaman Pare

KATA PENGANTAR


Puji Syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya yang dilimpahkan kepada kita semua, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini ditulis dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah….
Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah memfasilitasi sehingga makalah ini dapat selesai.
Akhirnya, harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dalam mengenal lebih jauh tentang tanaman pare.



Metro, 16 Januari 2011


PENULIS 
ii.
DAFTAR ISI

i. Kata pengantar …………………………………………………………………1
ii. Daftar isi ……………………………………………………………………………2
Bab. I pendahuluan ………………………………………………………………3
I.I latar belakang ……………………………………………………………3
I.II tujuan penulisan ............................................................4
Bab. II landasan teori …………………………………………………………...5
II.I hama penyerang tanaman pare …………………………………..5
II.II penyakit pada tanaman pare ………………………………………..8
Bab. III penutup …………………………………………………………………….10

iii. daftar situs ……………………………………………………………………………..11

BAB. I
PENDAHULUAN


I.I LATAR BELAKANG
Tanaman pare (Momordica charantia) berasal dari kawasan Asia Tropis, namun belum dipastikan sejak kapan tanaman ini masuk ke wilayah Indonesia. Saat ini tanaman pare sudah dibudidayakan di berbagai daerah di wilayah Nusantara. Umumnya, pembudidayaan dilakukan sebagai usaha sampingan. Pare ditanam di lahan pekarangan, atau tegalan, atau di sawah bekas padi sebagai penyelang pada musim kemarau. Tanaman pare (paria) adalah tanaman herba berumur satu tahun atau lebih yang tumbuh menjalar dan merambat. Tanaman yang merupakan sayuran buah ini mempunyai daun yang berbentuk menjari dengan bunga yang berwarna kuning. Permukaan buahnya berbintil-bintil dan rasa buahnya pahit. Tanaman pare ini sangat mudah dibudidayakan dan tumbuhnya tidak tergantung pada musim.
Walaupun tanaman ini tergolong mudah untuk dibudidayakan. Seperti pada tanaman lainnya, dalam budidaya tanaman pare juga tak lepas dari hama dan penyakit yang dapat merusak tanaman ini. Dalam makalah ini hal yang akan dibahas yaitu mengenai masalah, gejala serta cara penanganan hama dan penyakit pada tanaman pare.

I.II TUJUAN PENULISAN
Jika dilihat dari latar belakang diatas, maka tujuan dari penulisan ini adalah mengetahui apa saja penyakit dan hama yang dapat menyerang dan mengganggu baik dari pertumbuhan sampai hasil produksi tanaman pare. Kita dapat mengetahui gejala-gejala apa saja apabila tanaman pare terserang penyakit dan hama. Selain itu kita juga dapat mengetaui bagaimana cara menanggulangi hama dan penyakit yang terdapat pada tanaman pare tersebut.


BAB. II
LANDASAN TEORI


HAMA DAN PENYAKIT PARE
Salah satu syarat agar tanaman pare dapat tumbuh dan berkembang sehingga menimbulkan buah adalah tanaman pare harus sehat. Agar sehat tanaman harus terbebas dari gangguan hama dan penyakit pada tanaman. Yang dimaksud dengan hama adalah semua hewan yang dapat mengganggu tanaman sehingga dapat merugikan bagi tanaman tersebut. Sedangkan penyakit tanaman adalah semua gangguan pada tanaman yang disebabkan oleh jamur, virus, dan kekurangan unsure hara dalam tanaman.
Hama penyakit dan hama yang menyerang tanaman pare sebenarnya tidak terlalu banyak, namun demikian ada beberapa hama dan penyakit yang menyerang tanaman pare yang perlu kita ketahui, baik dari gejala maupun pengendaliannya.


II.I Hama Penyerang Tanaman Pare.
Hama adalah organisme yang dianggap merugikan dan tak diinginkan dalam kegiatan sehari-hari manusia. Walaupun dapat digunakan untuk semua organisme, dalam praktek istilah ini paling sering dipakai hanya kepada hewan. Suatu hewan juga dapat disebut hama jika menyebabkan kerusakan pada ekosistem alami atau menjadi agen penyebaran penyakit dalam habitat manusia. Dalam pertanian, hama adalah organisme pengganggu tanaman yang menimbulkan kerusakan secara fisik, dan ke dalamnya praktis adalah semua hewan yang menyebabkan kerugian dalam pertanian.
Berikut ini adalah macam-macam hama yang dapat menyerang tanaman pare beserta gejala dan penanganannya.
a. Ulat grayak yang menyerang daun. Ulat ini menyerang pada malam hari, sedangkan pada siang hari ulat ini bersembunyi didalam tanah. Dalam kondisi serangan berat semua daun pare bisa habis dimakannya, karena sifat hama ini adalah hamper semua jenis daun dimakannya.

Pemberantasan hama ini dapat dilakukan dengan cara secara mekanis yaitu mengambil telur-telur yang baru menetas diambil bersama-sama dengan daun yang menempel. Sedangkan penanganan secara biologis yaitu dengan penyemprotan Bacillus thungiriensis atau Borelinevirus litura. Penanganan secara kimia dengan menyemprotkan pestisida azodrin 2 cc/lt.

b. Lembing (epilachma sparsa). Gejala tanaman yang ini adalah daun pare yang diserang hanya tersisa tulang daunnya saja, daun menjadi kering dan kecoklatan, yang akhirnya produksi buah akan menurun. Hama ini berbentuk lembing bulat, warnanya merah mempunyai bercak hitam sebanyak 12-26 buah. Cara pengendaliannya antara lain dengan menangkap telur, larva dan lembing dengan tangan dan dimatikan. memberantas dengan musuh alaminya, yaitu jenis tabuhan yang menjadi parasit telur, larva dan pupa. Selain itu dilakukan rotasi tanaman dan disemprot dengan insektisida.

c. Kumbang aulacophora silimis. Gejala terserang kumbang ini yaitu tanaman menjadi layu karena jaringan akarnya dimakan larva dan daunnya dimakan kumbang. Hama ini menyerang akar. Pengendalian secara kimia yaitu dengan menyemprot insektisida curacon 500 EC. Pengendalian secara mekanik yaitu dengan gropyokan.

d. Kepik leptoglossus australis. Hama ini menyerang buah. Gejalanya kualitas buah akan menurun, bekas serangan hama bisa ditumbuhi cendawan nestopora, akhirnya buah menjadi busuk. Pengendalian kimia dengan menyemprot racun kontak seperti azodrin dosis 2 cc/lt.

e. Lalat buah. Gejalanya adalah daging buah tidak dapat dimakan karena busuk dan berair dengan ratusan belatung. Pengendalian dengan membungkus tanaman pare pada waktu berbuah, menggunakan insect trap, mengadakan penyiangan dan pembubunan.

f. Siput (pamarion pupillaris humb). Gejala serangannya yaitu tanaman terutama dipersemaian terkoyak, lalu mati. Pengendalian dengan ditangkap secara langsung, atau diberantas menggunakan racun kontak mesurol dengan bahan kimia methiocrab dengan dosis 2 gram/1 lt air.

II.II Penyakit Pada Tanaman Pare.
Selain hama, berikut ini adalah penyakit yang terdapat dan dapat merusak tanaman pare, antara lain :
a. Penyakit embun tepung.
Gejala awalnya ditandai dengan adanya tepung putih pada daun terbawah. Daun yang terserang menjadi kuning, coklat, dan akhirnya mongering. Batang jg diserang tepung ini, batang dilapisi tepung. Tanaman akan lemah dan mati atau buahnya tidak normal. Penyebab gejala ini adalah cendawan Oidium sp.

Pengendalian dapat dilakukan dengan :
• Mengurangi kelembaban disekitar tanaman dengan cara pengaturan jarak tanam dan drainase yang baik.
• menyemprot fungisida sulfur dosis 2 g/liter
• menanam varietas yang resisten
• membuang bagian tanaman yang diserang.

b. Penyakit antraktosa.
Gejala penyakit ini daun bernoda hitam. Pada serangan berat batang dan buah juga diserang, dan serangan lebih berat jika terjadi pada musim hujan. Gejala penyakit ini disebabkan oleh cendawan collectrichum sp. Pengendalian dengan memusnahkan tanaman yang terserang, pergiliran tanaman, dan penyemprotan dengan fungisida benlate dengan dosis 2 gram/liter

c. Penyakit layu.
Gejala layu tampak pada ujung daun, kemudian seluruh daun akan mengkerut lalu mongering. Tanaman akan mati sejak beberapa saat terinfeksi. Menyerang tanaman bibit yang baru berkecambah, tanaman muda dan tanaman dewasa. Penyebab penyakit ini disebabkan oleh Fusarium sp.

Pengendalian dengan memusnahkan tanaman yang terserang, menyitam dengan larutan fungisida benlete 2gram/liter ke tanah bekas tanaman yang terkena penyakit dan menggunakan benih yang tahan terhadap serangan patogen.

d. Penyakit virus.
Gejalanya menyerang daun muda. Serangan virus ini menyerang pada saat tumbuh (bibit, tanaman muda dan tanaman yang sudah berbuah). Penyebab gejala tersebut adalah Cucumber mosaic virus (CMV).

Pengendaliannya antara lain :
• Dengan memusnahkan tanaman yang terserang.
• menyeleksi bibit yang akan di pidah tanam ke lapang.
• Memberantas vector virus (serangga)


BAB. III
PENUTUP

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa tanamanan pare merupakan tanaman yang mudah dibudidayakan. Berdasarkan dari tujuan yang tertera dalam pendahuluan, makalah ini membahas masalah hama penyakit, yaitu mengetahui macam-macam hama yang dapat merusak budidaya tanaman ini. Makalah ini juga membahas mengenai penyakit dan gejala serta cara penanggulannya.
Dengan mengetahui macam-macam hama dan penyakit serta gejala dan cara penanggulangannya, maka kita bisa mengetahui cara perawatan dan bagaimana menanggulangi hama dan penyakit tanaman pare dengan baik.
Akhirnya, semoga makalah ini dapat bermanfaat serta menambah wawasan bagi seluruh pembaca dalam bidang pertanian khususnya budidaya tanaman pare.  
iii.
DAFTAR SITUS

http://mawarhitamsempurna.blogspot.com/2010_05_01_archive.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Hama
http://frendli.multiply.com/journal/item/61/PARE_dan_Manfaatnya

Wednesday, 7 March 2012

Cara Pencegahan Penyakit AIDS


Cara Untuk Menghindari HIV AIDS merupakan hal yang paling bijak & efektif dilakukan oleh kita, sebab mengobatinya akan lebih lama dan sulit, di Indonesia kasus HIV AIDS merupakan momok yang menakutkan karena penyakit ini bersifat menular. mencegah penyakit ini misalnya tidak melakukan tukar pasangan secara bebas atau menggunakan jarum suntuk secara bergantian, Sementara itu, angka penderita HIV AIDS di Indonesia terus meningkat. Hingga September 2006 tercatat jumlah total pengidap HIV positif mencapai 4.617 orang dan AIDS 6.987 orang. Namun, kasus tersebut merupakan fenomena gunung es, lebih banyak yang tidak terpantau dari pada yang dilaporkan. Departemen Kesehatan tahun 2006 memperkirakan jumlah orang Indonesia yang tertular HIV AIDS berkisar 169 ribu–216 ribu orang. Dari jumlah penjaja seks (180 rbu-265 ribu orang), 8.200-9.640 orang telah terinfensi HIV. Padahal pelanggan penjaja seks di negeri Muslim terbesar ini mencapai 2,5 juta orang hingga 3,8 juta orang. Dari jumlah 96 ribu napi, sekitar 4.300-6.000 napi telah terinfensi HIV. Tahun 2010, diperkirakan angka pengidap viruf HIV mencapai 500 ribu orang. Memang, angka penderita penyakit mematikan ini akan terus meningkat. Bila terinfeksi oleh HIV akan kehilangan limfosit T penolong melalui 3 tahap selama beberapa bulan atau tahun :
1.   Seseorang yang sehat memiliki limfosit CD4 sebanyak 800-1300 sel/mL darah. Pada beberapa bulan pertama setelah terinfeksi HIV, jumlahnya menurun sebanyak 40-50%. Selama bulan-bulan ini penderita bisa menularkan HIV kepada orang lain karena banyak partikel virus yang terdapat di dalam darah, tetapi tubuh tidak mampu meredakan infeksi.
2.   Setelah sekitar 6 bulan, jumlah partikel virus di dalam darah mencapai kadar yang stabil, yang berlainan pada setiap penderita. Perusakan sel CD4+ dan penularan penyakit kepada orang lain terus berlanjut. Kadar partikel virus yang tinggi dan kadar limfosit CD4+ yang rendah membantu dokter dalam menentukan orang-orang yang beresiko tinggi menderita AIDS.
3.   1-2 tahun sebelum terjadinya AIDS, jumlah limfosit CD4+ biasanya menurun drastis. Jika kadarnya mencapai 200 sel/mL darah, maka penderita menjadi rentan terhadap infeksi.
Gejala infeksi HIV dalam waktu beberapa tahun sebelum terjadinya infeksi atau tumor yang khas untuk AIDS. Gejalanya berupa : pembengkakan kelenjar getah bening, penurunan berat badan, demam yang hilang - timbul, perasaan tidak enak badan, lelah, diare berulang, anemia, thrush (infeksi jamur di mulut). Secara definisi, AIDS dimulai dengan rendahnya jumlah limfosit CD4+ (kurang dari 200 sel/mL darah) atau terjadinya infeksi oportunistik (infeksi oleh organisme yang pada orang dengan sistem kekebalan yang baik tidak menimbulkan penyakit). Juga bisa terjadi kanker, seperti sarkoma Kaposi dan limfoma non-Hodgkin, gejala - gejala dari AIDS berasal dari infeksi HIVnya sendiri serta infeksi oportunistik dan kanker.

Banyak obat yang bisa digunakan untuk menangani infeksi HIV : Nucleoside reverse transcriptase inhibitor ( AZT (zidovudin), ddI (didanosin), ddC (zalsitabin), d4T (stavudin), 3TC (lamivudin), Abakavir ),  Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor ( Nevirapin, Delavirdin, Efavirenz ), Protease inhibitor ( Saquinavir, Ritonavir, Indinavir, Nelfinavir ), Obat tersebut ntuk mencegah reproduksi virus sehingga memperlambat progresivitas penyakit. HIV akan segera membentuk resistensi terhadap obat tersebut bila digunakan secara tunggal. Pengobatan paling efektif adalah kombinasi antara 2 obat / lebih, Kombinasi obat bisa memperlambat timbulnya AIDS pada penderita HIV positif dan memperpanjang harapan hidup.




Tips Cara pencegahan HIV Aids >>>

Program pencegahan penyebaran HIV dipusatkan terutama pada pendidikan masyarakat mengenai cara penularan HIV, dengan tujuan merubah kebiasaan orang - orang yang beresiko tinggi untuk tertular. Cara pencegahan ini adalah :
1.   Untuk orang sehat, Abstinens ( tidak melakukan hubungan seksual ), Seks aman ( terlindung ).
2.   Untuk penderita HIV positif, Abstinens, Seks aman, Tidak mendonorkan darah atau organ, Mencegah kehamilan, Memberitahu mitra seksualnya sebelum dan sesudah diketahui terinfeksi.
3.   Untuk penyalahguna obat - obatan, Menghentikan penggunaan suntikan bekas atau bersama - sama, Mengikuti program rehabilitasi.
4.   Untuk profesional kesehatan, Menggunakan sarung tangan lateks pada setiap kontak dengan cairan tubuh, Menggunakan jarum sekali pakai.

Diagnosa penderita penyakit AIDS

Untuk dapat didiagnosis dengan AIDS, seseorang harus memiliki jumlah CD4 di bawah 200 atau mengalami komplikasi AIDS, seperti:
  • Pneumocystis pneumonia jiroveci
  • Cytomegalovirus
  • Tuberkulosis
  • Toksoplasmosis
  • Kriptosporidiosis
Komplikasi di atas sering juga di sebut sebagai gejala hiv aids. Berbagai penyebab HIV AIDS dapat ditularkan mealalui darah yang terinfeksi, air mani atau cairan vagina yang memasuki tubuh. Seseorang tidak dapat terinfeksi melalui kontak biasa seperti memeluk, mencium, menari atau berjabat tangan dengan seseorang yang menderita HIV atau AIDS. HIV tidak dapat ditularkan melalui air, udara atau melalui gigitan serangga. Secara umum penyebab penyakit HIV AIDS tertular melalui :

  • Selama seks. Anda dapat menjadi terinfeksi jika Anda melakukan hubungan seks vaginal, anal atau oral dengan pasangan yang terinfeksi yang darah, air mani atau cairan vagina memasuki tubuh Anda. Virus ini dapat memasuki tubuh melalui mulut atau air mata luka kecil yang kadang-kadang berkembang di dubur atau vagina selama aktivitas seksual.
  • Transfusi darah. Dalam beberapa kasus, virus dapat ditularkan melalui transfusi darah.
  • Berbagi jarum. virus HIV dapat ditularkan melalui jarum suntik terkontaminasi dengan darah yang terinfeksi. Berbagi kepemilikan obat intravena menempatkan Anda pada risiko tinggi HIV dan penyakit menular lainnya seperti hepatitis.
  • Dari ibu ke anak. ibu yang terinfeksi dapat menginfeksi bayi selama kehamilan atau persalinan, atau melalui menyusui. Tetapi jika perempuan menerima pengobatan untuk infeksi virus HIV selama kehamilan, risiko untuk bayi mereka secara signifikan berkurang. (source : kesehatan123.com)
Demikian artikel mengenai penyebab dan gejala hiv aids, sebagai tambahan pengetahuan baca juga artikel dina yang lain tentang penyakit asam urat, darah tinggi, kanker payudara, maag, dan kolesterol tinggi semoga dapat bermanfaat.

Penyebab HIV/AIDS

Penyebab timbulnya penyakit AIDS belum dapat dijelaskan sepenuhnya. tidak semua orang yang terinfeksi virus HIV ini terjangkit penyakit AIDS menunjukkan bahwa adafaktor-faktor lain yang berperan di sini. Penggunaan alkohol dan obat bius, kurang gizi,tingkat stress yang tinggi dan adanya penyakit lain terutama penyakit yang ditularkan lewatalat kelamin merupakan faktor-faktor yang mungkin berperan di antaranya adalah waktu.Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa HIV secara terus menerusmemperlemah sistem kekebalan tubuh dengan cara menyerang dan menghancurkankelompok-kelompok sel-sel darah putih tertentu yaitu sel
T-helper.
Normalnya sel
T-helper 
ini (juga disebut sel T4) memainkan suatu peranan penting pada pencegahan infeksi. Ketikaterjadi infeksi, sel-sel ini akan berkembang dengan cepat, memberi tanda pada bagian sistemkekebalan tubuh yang lain bahwa telah terjadi infeksi. Hasilnya, tubuh memproduksi antibodiyang menyerang dan menghancurkan bakteri-bakteri dan virus-virus yang berbahaya.Selain mengerahkan sistem kekebalan tubuh untuk memerangi infeksi, sel
T-helper 
juga memberi tanda bagi sekelompok sel-sel darah putih lainnya yang disebut sel
T-suppressor 
atau T8, ketika tiba saatnya bagi sistem kekebalan tubuh untuk menghentikanserangannya. Biasanya kita memiliki lebih banyak sel-sel
T-helper 
dalam darah daripada sel-sel
T-suppressor,
dan ketika sistem kekebalan sedang bekerja dengan baik, perbandingannyakira-kira dua banding satu. Jika orang menderita penyakit AIDS, perbandingan inikebalikannya, yaitu sel-sel
T-suppressor 
melebihi jumlah sel-sel
T-helper.
Akibatnya,penderita AIDS tidak hanya mempunyai lebih sedikit sel-sel penolong yaitu sel
T-helper 
untuk mencegah infeksi, tetapi juga terdapat sel-sel penyerang yang menyerbu sel-selpenolong yang sedang bekerja.Selain mengetahui bahwa virus HIV membunuh sel-sel
T-helper,
kita jugaperlu tahu bahwa tidak seperti virus-virus yang lain, virus HIV ini mengubah struktur sel yang6
 
diserangnya. Virus ini menyerang dengan cara menggabungkan kode genetiknya denganbahan genetik sel yang menularinya. Hasilnya, sel yang ditulari berubah menjadi pabrik pengasil virus HIV yang dilepaskan ke dalam aliran darah dan dapat menulari sel-sel
T-helper 
yang lain. Proses ini akan terjadi berulang-ulang. Virus yang bekerja seperti ini disebut
retrovirus
.HIV tidak hanya menyerang sistem kekebalan tubuh. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa virus ini juga merusask otak dan sistem saraf pusat. Otopsi yangdilakukan pada otak pengidap AIDS yang telah meniggal mengungkapkan bahwa virus inijuga menyebabkan hilangnya banyak sekali jaringan otak. Pada waktu yang bersamaan,peneliti lain telah berusaha untuk mengisolasi HIV dengan cairan
cerebrospinal 

dari orangyang tidak menunjukkan gejala-gejala terjangkit AIDS. Penemuan ini benar-benar membuatrisau. Sementara para peneliti masih berpikir bahwa HIV hanya menyerang sistem kekebalan,semua orang yang terinfeksi virus ini tetapi tidak menunjukkan gejala terjangkit AIDS ataupenyakit yang berhubungan dengan HIV dapat dianggap bisa terbebas dari kerusakan jaringanotak. Saat ini hal yang cukup mengerikan adalah bahwa mereka yang telah terinfeksi virusHIV pada akhirnya mungkin menderita kerusakan otak dan sistem saraf pusat.Penyakit AIDS disebabkan oleh virus HIV yang menyerang sel-sel Limfosit(sel T helper) yang berfungsi melindungi tubuh terhadap terjadinya infeksi sehingga dayatahan tubuh penderita berkurang dan mudah terinfeksi oleh berbagai penyakit

    

Wednesday, 15 February 2012

Contoh Proposal Skripsi Pertanian Agribisnis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Kepuasan kerja merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk mendapatkan hasil kerja yang optimal. Ketika seorang merasakan kepuasan dalam bekerja tentunya ia akan berupaya semaksimal mungkin dengan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk menyelesaikan tugas pekerjaannya. Dengan demikian produktivitas dan hasil kerja pegawai akan meningkat secara optimal.

Dalam kenyataannya, kepuasan kerja secara menyeluruh belum mencapai tingkat maksimal. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja seseorang/ penyuluh pada dasarnya secara praktis dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik adalah faktor yang berasal dari dalam diri dan dibawa oleh setiap seseorang sejak mulai bekerja di tempat  pekerjaannya, yang dalam penelitian ini adalah institusi penyuluhan.
Faktor eksentrinsik menyangkut halhal yang berasal dari luar diri seseorang, antara lain kondisi fisik lingkungan kerja, interaksinya dengan pegawai lain, sistem penggajian dan sebagainya.
Peningkatan kepuasan kerja petugas pada institusi penyuluhan di Indonesia hanya mungkin terlaksana secara bermakna apabila faktor-faktor yang mempengaruhi dapat diidentifikasi secara ilmiah, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
Penyuluhan sebagai pendidikan nonformal yang ditujukan untuk petani dan keluarganya, berperan penting dalam revitalisasi pembangunan pertanian. Perpres No.7 tahun 2005 tentang rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2004-2009 Bidang Pertanian (Bab 19), menyatakan bahwa lembaga pendukung petani, terutama lembaga penyuluhan pertanian sudah kurang berfungsi sehingga menurunkan efektivitas pembinaan, dukungan dan diseminasi teknologi dalam rangka meningkatkan penerapan teknologi dan efisiensi usaha petani, karena itu, penguatannya diarahkan kepada pendampingan petani, termasuk peternak.
Penyuluh pertanian yang ada pada BPP Wara Selatan dikepalai oleh Bpk Abdul Rasjid H. Sp. M.Si dengan jumlah penyuluh yang dibawahi sebanyak 20 orang dan staf kantor 5 orang. Semua penyuluh mempunyai wilayah kerja atau wilayah binaan masing – masing dan bertanggung jawab atas wilayah yang mereka bina untuk memajukan atau meningkatkan produksi pertanian yang ada di wilayah kerjanya. ( aninomous. 2012 )
Setiap penyuluh wajib menyampaikan dan mengajarkan ke petani tentang teknologi – teknologi baru yang dapat diterapkan sehingga bias meningkatkan produksi, meningkatkan kualitas dan kuantitas serta mengajarkan  bagaimana cara mengendalikan hama sesuai dengan tupoksi mereka sebagai penyuluh pertanian agar petani dapat meningkatkan taraf hdupnya.
Dalam menjalankan tupoksinya, penyuluh langsung turun kelapangan menemui para petani namun terkadang penyuluh kesulitan untuk melayani petani yang agak berjauhan hal ini dikarenakan tranportasi kurang memadai dalam hal ini kendaraan untuk penyuluh seperti kendaraan bermotor, walaupun terkadang mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat atau provinsi namun bantuan kendaraan tersebut tidak mencukupi.
Jadi untuk mengatasi masalah tersebut penyuluh biasanya mengundang para petani untuk melakukan musyawarah untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi para petani, sehingga masalah yang dihadapi petani dapat terselesaikan. ( aninomous. 2012 ) 
Data mengenai penyuluh yang ada pada BPP Wara Selatan dapat dilihat pada Tabel di bawah ini :
Table 1. daftar jumlah penyuluh dan staf pada kantor BPP Wara Selatan
No
Uraian
Jenis Kelamin
Jumlah (Orang)
Ket.
Pria
Wanita
1
2
3
4
Penyuluh PNS
Penyuluh Honorer
Staf PNS
Staf Honorer
8
2
1
5
5
2
2
13
       7
3
2
Jumlah
11
14
25
Penelitian ini dilakukan yaitu untuk mengetahui faktor – faktor yang berpengaruh penting dalam kepuasan kerja penyuluh pertanian yang ada pada BPP Wara Selatan sehingga dapat diketahui apa saja faktor – faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja penyuluh pertanian yang ada pada BPP Wara Selatan.
Karena kepuasan kerja seorang penyuluh sangat penting hal ini dikarenakan apabila seorang penyuluh tidak merasa puas terhadap pekerjaannya yang disebabkan oleh gaji, jaminan financial dan jaminan sosial yang kurang memadai maka akan berpengaruh terhadap hasil produksi pertanian yang ada di Kota Palopo karena kita ketahui penyuluh merupakan tulang punggung dalam peningkatan produksi hasil pertanian.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian pada latar belakang, dikemukakan masalah pokok yang dibahas dalam penelitian yaitu :
Faktor - faktor  apakah yang mempengaruhi kepuasan kerja penyuluh petanian pada BPP Wara Selatan  ?
1.3 TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini adalah :
Untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja  Penyuluh Pertanian pada BPP Wara Selatan
1.4 MANFAAT PENELITIAN
Manfaat  penelitian ini adalah :
1.      Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan penulis mengenai faktor – faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja penyuluh pertanian.
2.      penelitian ini juga diharapkan mampu menambah khazanah ilmu pengetahuan bagi para akademisi maupun masyarakat umum yang tertarik pada topik ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.            KAJIAN TEORI
2.1.1 Penyuluh Pertanian
Sumberdaya manusia merupakan salah satu faktor kunci dalam reformasi ekonomi, yaitu menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas dan memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi dalam menghadapi persaingan global yang selama ini terabaikan. Dalam kaitan itu ada dua hal yang penting yang menyangkut kondisi sumberdaya manusia pertanian di daerah yang perlu mendapatkan perhatian yaitu sumberdaya petugas dan sumberdaya petani. Kedua sumberdaya tersebut merupakan pelaku dan pelaksana yang mensukseskan program pembangunan pertanian ( Van Den Ban, et.al ,2003).
Sementara itu salah satu sumberdaya manusia petugas pertanian adalah kelompok fungsional yaitu kelompok Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), di mana Penyuluh Pertanian adalah petugas yang melakukan pembinaan dan berhubungan atau berhadapan langsung dengan petani. Tugas pembinaan dilakukan untuk meningkatkan sumberdaya petani di bidang pertanian, di mana untuk menjalankan tugas ini di masa depan penyuluh harus memiliki kualitas sumberdaya yang handal, memiliki kemandirian dalam bekerja, profesional serta berwawasan global. ( Van Den Ban, et.al ,2003).
“Penyuluhan secara sistematis adalah suatu proses yang (1). Membantu petani menganalisis situasi yang sedang dihadapi dan melakukan perkiraan ke depan; (2). Membantu petani menyadarkan terhadap kemungkinan timbulnya masalah dari analisis tersebut; (3). Meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan wawasan terhadap suatu masalah, serta membantu menyusun kerangka berdasarkan pengetahuan yang dimiliki petani; (4). Membantu petani memperoleh pengetahuan yang khusus berkaitan dengan cara pemecahan masalah yang dihadapi serta akibat yang ditimbulkannya sehingga mereka mempunyai berbagai alternatif tindakan; (5). Membantu petani memutuskan pilihan tepat yang menurut pendapat mereka sudah optimal; (6). Meningkatkan motivasi petani untuk dapat menerapkan pilihannya ; dan (7). Membantu petani untuk mengevaluasi dan meningkatkan keterampilan mereka dalam membentuk pendapat dan mengambil keputusan”( Van Den Ban, et.al ,2003).
2.1.2        Kepuasan kerja
A.    Definisi dan Teori – Teori Kepuasan Kerja
Menurut Robbins (1998) dalam Nastiti (2003), kepuasan kerja merupakan perilaku umum penyuluh terhadap pekerjaanya sebagai hasil perbedaan antara nilai reward yang diperoleh dan nilai reward yang diharapkan akan diperoleh. Kepuasan kerja merupakan satu elemen yang mendapatkan perhatian besar dari manajemen perusahaan. Hal ini terkait dengan keberadaan suatu paham manajerial bahwa karyawan yang merasa puas akan cenderung bekerja lebih produktif daripada karyawan yang merasa tidak puas dengan lingkungan kerjanya. Kepuasan kerja dapat dipahami melalui tiga aspek. Pertama, kepuasan kerja merupakan bentuk respon pekerjaan terhadap kondisi lingkungan pekerjaan. Kedua, kepuasan kerja sering ditentukan oleh hasil pekerjaan atau kinerja. Ketiga, kepuasan kerja terkait dengan sikap lainnya yang dimiliki oleh setiap pekerja (Luthans, 1995 sebagaimana dikutip Maryani & Supomo (2001), secara lebih rinci mengemukakan berbagai dimensi dalam kepuasan kerja yang kemudian dikembangkan menjadi istrumen pengukuran variabel kepuasan kerja, yang meliputi dimensi kepuasan terhadap:
1.         Menarik atau tidaknya jenis pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja,
2.         Jumlah kompensasi yang diterima oleh pekerja,
3.         Kesempatan untuk promosi jabatan,
4.         Kemampuan atasan dalam memberikan bantuan teknis dan dukungan perilaku, dan
5.         Dukungan rekan sekerja. Terdapat beberapa teori yang berkaitan dengan kepuasan kerja teori-teori tersebut antara lain adalah Teori Ketidaksesuian (Discrepancy Theory), Teori Keadilan (Equity Theory), dan Teori Dua Faktor (Teori Herzberg).
B.     Teori Ketidaksesuaian (Discrepancy Theory)
Teori ini mendasarkan pada kepuasan atau ketidakpuasan dengan sejumlah aspek tergantung pada selisih (discrepancy) antara apa yang telah didapatkan dengan apa yang diinginkan. Jumlah yang diinginkan dari karakteristik pekerjaan didefinisikan sebagai jumlah minimum yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan yang ada. Seseorang terpuaskan jika tidak ada selisih antara kondisi yang diinginkan dengan kondisi aktual.
Semakin besar kekurangan dan semakin banyak hal-hal yang diinginkan, maka semakin besar ketidakpuasan. Apabila yang didapat ternyata lebih besar dari yang diinginkan, maka orang akan menjadi lebih puas lagi walaupun terdapat discrepancy, karena discrepancy itu merupakan positif discrepancy. Sebaliknya semakin jauh kenyataan yang dirasakan atau di bawah standar minimum sehingga menjadi negatif discrepancy, maka semakin besar pula ketidakpuasan seseorang terhadap pekerjaannya. Sikap penyuluh akan tergantung bagaimana discrepancy itu dirasakan.
C.    Teori Keadilan (Equity Theory)
Prinsip pada teori ini adalah bahwa orang akan merasa puas atau tidak puas tergantung apakah ia merasakan adanya keadilan atau tidak atas suatu situasi. Perasaan equity atau inequity atas suatu situasi diperoleh dengan cara membandingkan dirinya dengan orang lain sekelas, sekantor, dan sebagainya. Elemen teori ini ada tiga yaitu:
1.     Input yaitu segala sesuatu yang berharga yang dirasakan karyawan sebagai sumbangan terhadap pekerjaannya, misal: pendidikan, pengalaman, keadilan, jumlah jam kerja, dan sebagainya.
2.     Outcomes atau hasil yaitu segala sesuatu yang berharga yang dirasakan karyawan sebagai hasil dari pekerjaannya, misal: gaji, keuntungan, status, dan sebagainya.
3.     Orang pembanding yaitu orang lain dengan siapa karyawan membandingkan rasio input outcomes yang dimilikinya, dapat berupa seseorang di perusahaan yang sama atau di tempat lainnya atau bisa pula dengan dirinya sendiri di masa lampau.
Menurut teori ini setiap penyuluh akan membandingkan rasio inputoutcomes dirinya dengan rasio input-outcomes orang pembanding. Bila perbandingan itu dianggap cukup adil, maka ia akan merasa puas. Bila perbandingan itu tidak seimbang tapi menguntungkan (over compensation in equity) dapat menimbulkan kepuasan. Tetapi bila perbandingan itu tidak seimbang dan merugikan (under compensation equity) akan timbul ketidakpuasan. ( Robbins 1998 )
2.1.3 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja Penyuluh Pertanian
Kepuasan kerja pada dasarnya merujuk pada seberapa besar seorang penyuluh menyukai pekerjaannya (Cherington, 1987:82). Kepuasan kerja adalah sikap umum pekerja tentang pekerjaan yang dilakukannya, karena pada umumnya apabila orang membahas tentang sikap pegawai, yang dimaksud adalah kepuasan kerja (Robbins, 1994:417). Pekerjaan merupakan bagian yang penting dalam kehidupan seseorang, sehingga kepuasan kerja juga mempengaruhi kehidupan seseorang. Oleh karena itu kepuasan kerja adalah bagian kepuasan hidup (Wether dan Davis, 1982:42).
Faktor-faktor yang biasanya digunakan untuk mengukur kepuasan kerja seorang pegawai adalah:
·            Faktor Kepuasan Finansial, yaitu terpenuhinya keinginan penyuluh terhadap kebutuhan finansial yang diterimanya untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari sehingga kepuasan kerja bagi penyuluh dapat terpenuhi. Hal ini meliputi; besarnya gaji, jaminan sosial, macam-macam tunjangan, fasilitas yang diberikan serta promosi (Moh. As’ad,1987: 118).
·            Faktor Kepuasan Fisik, yaitu faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja dan kondisi fisik penyuluh. Hal ini meliputi; jenis pekerjaan, pengaturan waktu kerja dan istirahat, kondisi kesehatan penyuluh dan umur (Moh. As’ad,1987:117).
·            Faktor Kepuasan Sosial, yaitu faktor yang berhubungan dengan interaksi sosial baik antara sesama penyuluh, dengan atasannya maupun antara sesama penyuluh. Hal ini meliputi; rekan kerja yang kompak, pimpinan yang adil dan bijaksana, serta pengarahan dan perintah yang wajar (Drs.Heidjrachman dan Drs. Suad Husnan.1986: 194-195).
·            Faktor Kepuasan Psikologi, yaitu faktor yang berhubungan dengan kejiwaan penyuluh. Hal ini meliputi; minat, ketentraman dalam bekerja, sikap terhadap kerja, bakat dan keterampilan (Moh.As’ad,1987: 11.7).
Kepuasan kerja dapat dirumuskan sebagai respons umum pekerja berupa perilaku yang ditampilkan oleh penyuluh sebagai hasil persepsi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaannya. Kepuasan kerja akan didapat apabila ada kesesuaian antara harapan pekerja dan kenyataan yang didapatkannya di tempat bekerja.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja karyawan, peranan dari faktor-faktor tersebut dalam memberikan kepuasan kerja juga tergantung pada pribadi masing-masing individu, Ghiselli dan Brown mengemukakan pendapatnya yang dikutip oleh Syahrani (2002), menyatakan adanya enam faktor yang menimbulkan kepuasan kerja, yaitu:
1. Pencapaian diri atau Spiritualitas
Perasaan tenang dan puas karena terdapatnya kebahagian batin/spiritual, misalnya perasaan dalam bekerja, dimana karyawan mendasarkan diri dalam bekerja semata-mata untuk beribadah kepada Tuhan. Bekerja merupakan salah satu cara untuk bertakwa kepada Tuhan. Seberapa beratnya tugas yang diembannya, namun bila itu merupakan pekerjaan yang harus dilaksanakan, maka karyawan akan ikhlas dan puas menjalankannya.
2. Kedudukan atau Posisi
Umumnya ada anggapan bahwa orang yang bekerja pada pekerjaan yang lebih tinggi akan lebih puas daripada yang bekerja pada pekerjaan yang lebih rendah. Beberapa penelitian menunjukan bahwa hal tersebut tidak selalu benar, perubahan tingkat pekerjaanlah yang mempengaruhi kepuasan kerja.
3. Pangkat atau Golongan
Pada pekerjaan yang mendasarkan perbedaan tingkat (golongan) sehingga pekerjaan tersebut memberikan kedudukan tertentu pada orang yang melakukannya. Apabila ada kenaikan upah, maka sedikit banyak akan dianggap sebagai kenaikan pangkat, dan kebanggaan terhadap kedudukan yang baru itu akan mengubah perilaku dan perasaanya.
4. Umur
Dinyatakan bahwa ada hubungan antara kepuasan kerja dengan umur karyawan: Umur antara 25 sampai 34 tahun dan umur 40 sampai 45 tahun adalah merupakan umur-umur yang bisa menimbulkan perasaan kurang puas terhadap pekerjaan. Sedangkan untuk umur karyawan diatas 45 tahun, mereka akan cenderung realistis dan puas terhadap pekerjaannya.
5.         Jaminan Finansial dan Jaminan Sosial
Masalah jaminan financial (kompensasi) dan jaminan sosial kebanyakan berpengaruh terhadap kepuasan kerja karyawan.
6.         Mutu Pengawasan
Hubungan antara karyawan dengan pihak pimpinan sangat penting artinyadalam menaikkan produktivitas kerja. Kepuasan karyawan dapat ditingkatkan melalui perhatian dan hubungan yang baik dari pimpinan kepada bawahannya, sehingga karyawan akan merasa bahwa dirinya merupakan bagian yang penting dari organisasi kerja
Persepsi pekerja mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaannya dan kepuasan kerja melibatkan rasa aman, rasa adil, rasa menikmati, rasa bergairah, status dan kebanggaan. Dalam persepsi ini juga dilibatkan situasi kerja pekerja yang bersangkutan yang meliputi interaksi kerja, kondisi kerja, pengakuan, hubungan dengan atasan, dan kesempatan promosi. Selain itu di dalam persepsi ini juga tercakup kesesuaian antara kemampuan dan keinginan pekerja dengan kondisi organisasi tempat mereka bekerja yang meliputi jenis pekerjaan, minat, bakat, penghasilan, dan insentif.
2.2 Hipotesis
Berdasarkan uraian-uraian dalam latar belakang, permasalahan dan tujuan maka hipotesis yang diajukan adalah “Diduga bahwa dengan adanya beberapa faktor seperti : umur, mutu pengawasan, pangkat, jaminan pinansial dan lain-lain dapat mempengaruhi kepuasan kerja penyuluh pertanian di BPP Wara Selatan, Kota Palopo
BAB III
METODE PENELITIAN
III.1 Lokasi  dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Kelurahan Songka, Kecamatan Wara Selatan, Kota Palopo Lokasi ini dipilih atas pertimbangan bahwa di Kelurahan  tersebut merupakan salah satu obyek yang mempunyai Penyuluh Pertanian berpengalaman.
III.2 Penentuan Responden
Penentuan responden dilakukan dengan mengambil semuah penyuluh yang ada pada BPP wara selatan yang berjumlah 20 orang
III.3 Jenis dan Sumber Data
Dalam penelitian ini pengambilan terdiri dari data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara melakukan wawancara dan observasi langsung kepada 20 orang penyuluh pertanian, Kantor BPP Wara Selatan
Data sekunder diperoleh dari kantor BPP Wara Selatan dan Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kota Palopo.
III.4 Teknik Analisis Data
Untuk mengetahui tingkat kepuasan kerja penyuluh pertanian pada BPP Wara Selatan maka digunakan angka – angka sebagai berikut :
3 = Sangat Pu
2 = Kurang Puas
1 = Tidak Puas
III.5 Defenisi Operasional
Beberapa pengertian yang menjadi batasan penelitian ini adalah :
1.            Penyuluhan secara sistematis adalah suatu proses yang Membantu petani menganalisis situasi yang sedang dihadapi dan melakukan perkiraan ke depan
2.            Penyuluh Pertanian adalah petugas yang melakukan pembinaan dan berhubungan atau berhadapan langsung dengan petani binaan.
3.            Umur adalah usia responden yang dihitung dari tahun kelahiran sampai pada saat diwawancarai dinyatakan dalam satuan tahun
4.             Kelompok fungsional adalah kelompok Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL)
5.            kepuasan kerja adalah perilaku umum karyawan terhadap pekerjaanya sebagai hasil perbedaan antara nilai reward yang diperoleh dan nilai reward yang diharapkan akan diperoleh.
6.            Faktor – faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja penyuluh pertanian yaitu :
a.       Gaji yaitu salah satu hal yang penting bagi setiap penyuluh yang bekerja dalam suatu instansi pemerintah, karena dengan gaji yang diperoleh seseorang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
b.      Pangkat dan Golongan adalah kedudukan yang M menunjukkan tingkatan seseorang Pegawai Negeri Sipil berdasarkan jabatannya dalam rangkaian susunan kepegawaian dan digunakan sebagai dasar penggajian.
c.       Umur adalah usia satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan suatu benda atau makhluk, baik yang hidup maupun yang mati. dinyatakan dalam satuan tahun
d.      Jaminan Finansial dan Jaminan Sosial adalah suatu program yang didanai atau diberikan oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan dasar orang tanpa sumber daya.


DAFTAR PUSTAKA
Abbas Samsuddin 1999. Sembilan Puluh Tahun Penyuluhan Pertanian di Indonesia. Jakarta. BPLPP-Departemen Pertanian.
Bahua M. Ikbal, 2010. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Penyuluh Pertanian dan Dampaknya Pada Perilaku Petani Jagung di Provinsi Gorontalo. Disertasi – Doktor. Bogor. Sekolah Pascasarjana-IPB.
Hubeis Vitalaya S. Aida. 2008. Motivasi, Kepuasan dan Produktivitas Kerja Penyuluh Lapangan Peternakan. Media Peternakan, April 2008, hlm. 71-80. Vol. 31 No.1. Terakreditasi SK Dikti No: 56/DIKTI/Kep/2005.
Jahi Amri dan Ani Leilani, 2006. Kinerja Penyuluh Pertanian di Beberapa Kabupaten, Provinsi Jawa Barat. Jurnal Penyuluhan . Vol. 2 No.2
Mardikanto Totok, 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Surakarta. Universitas Sebelas Maret (UNS) Press.
Marzuki. 1994. Dasar-dasar Penyuluhan Pertanian. Jakarta: Universitas Terbuka.
Nazir Moh, 2005. Metode Penelitian. Bogor. Ghalia Indonesia
Newstrom. 2009. “Job satisfaction is the favorableness or unfavorableness with employes view their work”. Kepuasan kerja [terhubung berkala] http//id.wikipedia.org/wiki/Kepuasa n_Kerja.
Puspadi Ketut, 2002. Rekonstruksi Sistem Penyuluhan Pertanian. Disertasi Doktor. Bogor. Sekolah Pascasarjana - Institut Pertanian Bogor.
Sastraadmadja. 1993. Teknik Penyuluhan Pertanian. Jakarta: Balai Pustaka.
Syamsudin. 1987. Dasar-dasar Penyuluhan dan Modernisasi Pertanian. Bandung: Bina Cipta.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 16, 2006. Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan. Jakarta. Departemen Pertanian
van den Ban & Hawkins. 2005. Penyuluhan Pertanian. Yogyakarta: Kanisius.
Wibowo. 2007. Manajemen Kinerja. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
http://blog-husni.blogspot.com/2010/07/kinerja-penyuluh-pertanian-lapangan-di.html Kinerja Penyuluh Pertanian Lapangan di Provinsi Jambi. Diakses pada tanggal 25 Februari 2012
http://www.penyuluhpertanian.com/pelaksanaan-sertifikasi-penyuluhpertanian Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Pusbangluhtan Kementrian Pertanian. Diakses pada tanggal 25 Februari 2012

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More